“Mens Sana in Corpore Sano”, Benarkah???

Pernah mendengar istilah latin “Mens Sana in Corpore Sano”? Kalimat ini berasal dari mahakarya pujangga Romawi pada abad kedua, Decimus Iunius Juvenalis, dalam Satire X. Pada perkembangannya, istilah ini banyak digunakan untuk jargon olahraga dan kesehatan di seluruh dunia.  Namun, tahukah Anda apa arti dari kalimat tersebut?

Ya, di dalam badan yang sehat, ada jiwa yang sehat juga. Secara logika, bisa kita ambil contoh, ketika kita mengalami batuk, flu, sakit gigi, dan sebagainya, maka secara tidak langsung akan memengaruhi perilaku kita. Kita akan malas berbicara, cenderung banyak tidur, malas keluar rumah, atau bahkan menjadi mudah marah dan gelisah.

Contoh yang lebih ekstrim lagi, penyakit kronis seperti kardiovaskuler, diabetes melitus, hipertensi, dan lain-lain, mengakibatkan beban psikologis pada penderitanya. Pasien akan mengalami kecemasan, kesedihan, bahkan tidak jarang mengalami emosi yang sangat mendalam yang ditunjukkan dengan penolakan, kemarahan, dan depresi. Hal ini dapat terjadi karena pasien tidak siap dengan diagnosis dokter atas penyakit yang dialaminya tersebut, mereka lelah dengan pengobatan rutin yang harus dijalaninya, pantangan yang harus dihindarinya, dan juga besarnya biaya yang harus mereka keluarkan untuk pengobatan.

Contoh-contoh tersebut di atas adalah bukti kuat yang menjelaskan bagaimana kesehatan fisik sangat memengaruhi kesehatan jiwa seseorang.

Lalu, apakah kesehatan jiwa juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik seseorang?

Mari kita cermati contoh berikut ini, orang-orang yang kurang dapat mengendalikan emosinya, kebanyakan mudah terserang hipertensi (tekanan darah tinggi); mereka yang mengalami stres berlebihan mudah terserang dyspepsia (maag), kanker, dan sebagainya. Hal ini terjadi karena dalam kondisi stres, daya tahan tubuh seseorang akan mudah menurun sehingga penyakit akan mudah menyerangnya.

Penelitian juga menunjukkan bahwa kebanyakan penderita kanker adalah orang yang biasa memendam emosi-emosi negatif seperti kemarahan, kesedihan, kebencian, permusuhan dan kecemburuan, yang menyebabkan sel-sel kanker mudah berkembang.

Uraian di atas menunjukkan bahwa kesehatan fisik dan jiwa saling memengaruhi satu sama lain. Fisik yang kurang sehat mengakibatkan kondisi emosional dan perilaku (kejiwaan) menurun, sebaliknya, kondisi emosional yang menurun atau tertekan mengakibatkan gangguan kondisi fisik, baik secara akut (dalam bentuk psikosomatis), kronis (dalam bentuk somatisasi), ataupun dapat memperparah kondisi fisik atau organ yang lemah (jantung, gula darah, darah tinggi, dan lain-lain).

Untuk meningkatkan kesehatan jiwa seseorang, hal yang sederhana dapat kita lakukan adalah:

  1. Mengurangi stres, kecemasan, kesedihan dengan bersikap terbuka jika mengalami masalah. Berbagi perasaan dengan orang terdekat atau orang yang dipercaya mampu membuat pikiran menjadi lega.
  2. Senantiasa berpikir positif terhadap segala sesuatu yang menimpa diri kita sehingga kita terhindar dari perasaan benci dan dendam.
  3. Relaksasi, dapat membantu kita menenangkan pikiran dari hal-hal yang menekan.
  4. Olahraga atau melakukan kegiatan yang disukai merupakan cara membebaskan diri kita dari kepenatan.

Penulis: Rahmah Saniatuzzulfa, S.Psi., M.Psi., Psikolog (Psikolog RS UNS)

Komentar Anda?