RS UNS – Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS) menyelenggarakan kegiatan Dialog Sehat bertajuk “Benjolan di Leher, Apakah Tanda Kanker?” di Area Ruang Tunggu Poliklinik Timur Lantai 2 pada Rabu, 30 Juli 2025. Acara ini dihadiri puluhan pasien, keluarga pasien, serta masyarakat umum, dan menghadirkan narasumber dr. Andri Firmansyah, Sp.THT-KL, Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher RS UNS.
Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kanker Kepala dan Leher Sedunia (World Head and Neck Cancer Day) yang diperingati setiap tanggal 27 Juli. Tujuannya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya kanker kepala dan leher serta pentingnya deteksi dini, karena kasus kanker sering kali ditemukan pada stadium lanjut akibat keterlambatan pemeriksaan.
Kanker kepala dan leher merupakan salah satu masalah kesehatan global yang memiliki angka kejadian cukup tinggi. Menurut data World Health Organization (WHO), kanker kepala dan leher termasuk dalam 10 besar kanker terbanyak di dunia. Salah satu gejala yang sering ditemukan adalah benjolan di leher, namun banyak masyarakat yang menganggapnya sepele atau menunda pemeriksaan. Melalui kegiatan ini, RS UNS ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa tidak semua benjolan adalah kanker, tetapi setiap benjolan yang tidak kunjung sembuh harus mendapat perhatian medis.
Pentingnya Mengenali Benjolan di Leher
Dalam paparannya, dr. Andri Firmansyah menjelaskan bahwa tidak semua benjolan di leher merupakan kanker, namun tetap perlu diwaspadai. Beberapa benjolan bisa saja disebabkan oleh pembesaran kelenjar getah bening akibat infeksi, gangguan tiroid, atau tumor jinak. Namun, ada pula benjolan yang dapat menjadi indikasi kanker kepala dan leher.
“Benjolan atau tumor tidak selalu berarti kanker, tetapi masyarakat harus waspada. Apabila benjolan bertahan lebih dari dua minggu, ukurannya semakin membesar, terasa keras, atau disertai gejala lain seperti sulit menelan dan suara serak, maka sebaiknya segera diperiksakan,” tutur dr. Andri.
Tanda-Tanda Benjolan yang Perlu Diwaspadai
Menurut materi yang disampaikan dr. Andri Firmansyah, ada beberapa gejala yang patut diperhatikan antara lain:
- Benjolan bertahan lebih dari 2 minggu atau semakin membesar.
- Teraba padat dan berkurang mobilitasnya.
- Disertai luka pada permukaan benjolan.
- Menimbulkan sesak napas atau sulit menelan.
- Luka di area mulut yang tidak kunjung sembuh.
- Perubahan suara atau suara serak menetap.
- Sumbatan hidung dan mimisan berulang.
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
- Amandel membesar hanya di satu sisi.
- Lesi pada kulit yang menetap.
Gejala-gejala tersebut dapat menjadi petunjuk awal yang tidak boleh diabaikan.
Pentingnya Deteksi Dini
- Andri juga menekankan pentingnya deteksi dini untuk menentukan penyebab benjolan di leher. Pemeriksaan dapat meliputi:
- Pemeriksaan dokter spesialis THT,
- Radiologi: USG, CT Scan, Rontgen,
- Laboratorium: pemeriksaan darah, mikrobiologi, tumor marker,
- Patologi Anatomi: FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy) atau biopsi jaringan.
“Semakin cepat benjolan diperiksa, semakin baik peluang keberhasilan terapi bila ternyata ditemukan kanker,” tambah dr. Andri.
Antusiasme Peserta
Acara berlangsung interaktif. Peserta antusias bertanya seputar perbedaan tumor jinak dan ganas, gejala awal kanker kepala-leher, hingga langkah pencegahan yang bisa dilakukan sehari-hari. Beberapa peserta juga membagikan pengalaman pribadi tentang anggota keluarga yang pernah memiliki benjolan di leher.
Salah satu peserta, ibu rumah tangga dari Sukoharjo, mengaku sangat terbantu dengan penyuluhan ini. “Awalnya saya kira benjolan di leher itu hanya gondok biasa. Setelah ikut penyuluhan, saya jadi tahu kapan harus segera periksa ke dokter. Edukasi ini sangat bermanfaat,” ujarnya.
Kesimpulan
Kegiatan Dialog Sehat RS UNS dengan tema “Benjolan di Leher, Apakah Tanda Kanker?” berhasil memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengenali gejala awal kanker kepala dan leher. Tidak semua benjolan merupakan kanker, namun setiap benjolan yang menetap lebih dari dua minggu, semakin membesar, teraba keras, atau disertai gejala seperti sulit menelan, suara serak, mimisan berulang, serta penurunan berat badan tanpa sebab harus segera diperiksakan ke dokter.
Penyuluhan ini menegaskan bahwa deteksi dini merupakan kunci utama dalam keberhasilan terapi kanker kepala dan leher. Melalui pemeriksaan medis yang tepat seperti USG, CT Scan, laboratorium, maupun biopsi, diagnosis dapat ditegakkan lebih cepat sehingga penanganan bisa dilakukan secara optimal. Dengan adanya kegiatan ini, RS UNS menunjukkan komitmennya untuk terus mendukung program promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan, sehingga masyarakat lebih peduli dan tidak mengabaikan gejala yang berpotensi menjadi kanker.
HUMAS UNS