Mengenal Fenomena “Superflu”: Lonjakan Kasus Influenza A(H3N2) di Indonesia
RS UNS – Belakangan ini, istilah “superflu” menjadi pusat perhatian seiring dengan meningkatnya penyebaran influenza musiman yang dipicu oleh virus influenza varian A(H3N2) subclade K di tingkat global, termasuk di tanah air. Penting untuk dipahami bahwa meskipun terdengar mengkhawatirkan, superflu bukanlah nama resmi bagi virus atau jenis penyakit baru. Istilah tersebut hanyalah sebutan populer yang menggambarkan kondisi percepatan penularan influenza yang terjadi baru-baru ini.
Secara medis, varian yang dikaitkan dengan istilah ini tetap merupakan bagian dari garis keturunan virus influenza A H3N2, sebuah varian yang sudah lama dipantau oleh organisasi kesehatan dunia (WHO).
Perkembangan Kasus di Indonesia dan Global
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, keberadaan superflu di Indonesia mulai teridentifikasi pada Agustus 2025 melalui pemantauan rutin sistem ILI-SARI serta analisis Whole Genome Sequencing (WGS). Hingga penutup tahun 2025, tercatat sebanyak 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Tiga wilayah dengan angka kejadian tertinggi meliputi Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Meski data menunjukkan mayoritas penderita adalah perempuan dan anak-anak, Kemenkes memastikan bahwa kondisi saat ini masih di bawah kendali. Hingga saat ini, tidak ditemukan adanya peningkatan tingkat keparahan medis yang lebih ekstrem jika dibandingkan dengan infeksi influenza pada umumnya.
Fenomena serupa juga terjadi di mancanegara. Sepanjang musim flu 2025-2026, negara-negara di Amerika Serikat dan Eropa melaporkan kenaikan kasus serta angka rawat inap yang cukup signifikan pada akhir tahun 2025 akibat varian H3N2 ini.
Alasan Di Balik Populernya Istilah Superflu
Penyebaran istilah ini didorong oleh beberapa faktor yang menarik perhatian masyarakat, di antaranya:
- Laju Penularan yang Agresif: Terjadi percepatan infeksi yang sangat terasa, khususnya pada musim-musim tertentu.
- Dominasi Varian Tertentu: Munculnya H3N2 subclade K membuat tren flu musiman kali ini terasa lebih intens di berbagai lokasi secara serentak.
Walaupun penyebarannya masif, data epidemiologi dan evaluasi WHO menyimpulkan bahwa varian ini tidak memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi daripada jenis influenza musiman sebelumnya.
Karakteristik Gejala
Secara klinis, gejala superflu identik dengan flu biasa, sehingga sulit bagi dokter untuk membedakannya hanya melalui pemeriksaan fisik tanpa uji laboratorium. Gejala-gejala yang umumnya muncul meliputi:
- Demam dengan suhu tinggi
- Gangguan pernapasan seperti batuk dan pilek
- Nyeri pada tenggorokan
- Pusing dan rasa pegal pada otot
- Kondisi tubuh yang melemas
Rangkaian gejala ini biasanya berkembang secara bertahap dalam kurun waktu beberapa hari setelah pasien terinfeksi.
Mekanisme Penularan dan Kelompok Berisiko
Virus ini menyebar lewat butiran air ludah (droplet) saat penderita berbicara, bersin, atau batuk. Selain itu, menyentuh area wajah (mata, hidung, mulut) setelah memegang benda yang terkontaminasi juga menjadi jalur penularan. Beberapa kelompok yang lebih rentan mengalami dampak serius adalah:
- Anak usia di bawah lima tahun (balita)
- Warga lanjut usia (lansia)
- Individu dengan penyakit penyerta (kronis)
- Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah
Strategi Pencegahan
Guna menekan angka penularan, Kemenkes RI mengimbau masyarakat untuk menerapkan langkah-langkah berikut:
- Vaksinasi Rutin: Melakukan imunisasi influenza setiap tahun, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi (lansia, ibu hamil, dan penderita komorbid) untuk mencegah risiko sakit berat.
- Penerapan PHBS: Rajin mencuci tangan, menutup mulut saat bersin/batuk, memakai masker jika sedang sakit, serta tidak menyentuh wajah dengan tangan yang belum bersih.
- Gaya Hidup Sehat: Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan beristirahat secara cukup.
- Isolasi Mandiri: Tetap berada di rumah saat mengalami gejala demam atau batuk guna memutus rantai penyebaran di area publik.
Jika penderita mengalami kondisi yang memburuk, seperti kesulitan bernapas atau tanda-tanda pneumonia, sangat disarankan untuk segera mendatangi fasilitas layanan kesehatan.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa superflu merupakan fenomena meningkatnya frekuensi kasus influenza A(H3N2) subclade K, bukan sebuah diagnosis medis baru. Hingga penghujung Desember 2025, terdapat 62 kasus di Indonesia yang tersebar di delapan provinsi dengan gejala klinis yang serupa dengan flu musiman. Selama masyarakat tetap waspada dengan menerapkan PHBS dan melakukan vaksinasi tahunan, situasi kesehatan publik tetap terkendali.
Ditinjau Oleh: dr. Brigitta Devi Anindita Hapsari, Sp.P. (K)

