Bukan Sekadar Kenyang: Pentingnya Protein Hewani dalam MP-ASI untuk Cegah Stunting

Bukan Sekadar Kenyang: Pentingnya Protein Hewani dalam MP-ASI untuk Cegah Stunting

Stunting Bukan Hanya Soal Tinggi Badan

RS UNS – Stunting adalah kondisi saat anak mengalami gangguan pertumbuhan karena kekurangan gizi dalam waktu lama, terutama sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun. Anak yang mengalami stunting terlihat lebih pendek dibanding anak seusianya.1

Penyebab utama stunting antara lain makanan yang bergizi rendah, infeksi berulang, atau masalah penyerapan nutrisi di dalam tubuh. Saat anak sering sakit, tubuh membutuhkan energi lebih, tetapi jika makanan tidak mencukupi, pertumbuhan fisik dan otaknya terhambat.2

Dampak stunting tidak hanya soal tinggi badan,3 tetapi juga mengganggu perkembangan otak. Anak stunting cenderung lebih lambat belajar, sulit berkonsentrasi,4 dan memiliki daya tahan tubuh lebih lemah.5 Di masa dewasa, mereka juga lebih berisiko mengalami penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.6 Penelitian di Cebu, Filipina menemukan bahwa anak yang stunting pada usia dua tahun cenderung masuk sekolah lebih lambat dan mendapat nilai lebih rendah dibanding anak yang tumbuh normal.7

Singkatnya, stunting bukan hanya soal tinggi badan, tapi juga masa depan anak.8 Pencegahannya harus dimulai sejak dini dengan gizi seimbang, pola asuh baik, dan akses kesehatan yang memadai.

 

Kunci Mencegah Stunting

Pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) yang tepat merupakan salah satu kunci utama untuk mencegah stunting pada anak. Makanan ini diberikan kepada bayi saat ASI saja tidak mencukupi kebutuhan nutrisi, umumnya dimulai usia 6 bulan Pada usia ini, kebutuhan bayi akan energi dan nutrisi semakin besar, sehingga ASI saja sudah tidak cukup.9

Sayangnya, justru pada usia 6 sampai 23 bulan, banyak anak mulai mengalami stunting.10 Agar MP-ASI benar-benar membantu, ada 4 aturan penting yang harus diikuti:

  1. Diberikan pada waktu yang tepat

Mulai sejak bayi berusia 6 bulan, tidak lebih awal dan tidak terlambat.

  1. Bergizi dan cukup jumlahnya

Makanan harus mengandung cukup energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral, serta diberikan dalam porsi yang sesuai usia.

  1. Disiapkan secara bersih dan aman

Agar tidak terkontaminasi kuman yang bisa menyebabkan diare atau infeksi, yang juga bisa menghambat pertumbuhan.

  1. Diberikan secara responsif

Orang tua atau pengasuh harus memperhatikan tanda dari anak, seperti apakah dia masih lapar atau sudah kenyang, tanpa memaksa.

MP-ASI yang baik tidak hanya membuat anak tumbuh lebih tinggi dan kuat, tapi juga meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga anak lebih jarang sakit. Karena sakit berulang adalah salah satu penyebab stunting, cara makan yang benar bisa mencegahnya. Selain itu, memberi makan dengan perhatian terhadap keinginan anak membantu membangun hubungan positif dengan makanan. Ini penting agar ke depannya anak tidak pemilih makan (picky eater) atau punya masalah pola makan. Dengan menerapkan keempat prinsip ini, MP-ASI bisa mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik fisik maupun kecerdasannya.9

 

Pentingnya Protein Hewani dalam MP-ASI

Protein hewani sangat penting dalam makanan pendamping ASI (MP-ASI) untuk bayi usia 6 bulan ke atas. Sumber seperti ikan, telur, ayam, daging, dan hati mengandung protein berkualitas tinggi karena memiliki semua asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh dan lebih mudah diserap dibanding protein nabati.11

Selain protein, makanan hewani kaya akan zat gizi penting seperti:

  • Zat besi heme– dalam bentuk yang lebih mudah diserap tubuh, penting untuk mencegah anemia dan mendukung pertumbuhan.
  • Seng (zinc)– membantu daya tahan tubuh dan pertumbuhan.
  • Vitamin B12– hanya ditemukan dalam bahan hewani, sangat penting untuk pembentukan sel darah merah dan perkembangan otak.

Bayi dan balita sangat membutuhkan nutrisi ini terutama pada usia 6–23 bulan, yaitu masa emas pertumbuhan. Jika kebutuhan protein dan zat gizi tersebut tidak terpenuhi, risiko stunting meningkat — meskipun anak makan banyak, tubuhnya tetap pendek karena kurang bahan untuk tumbuh. Karbohidrat memang memberi energi, tapi untuk membangun otot, tulang, dan otak yang kuat, tubuh membutuhkan protein dan mikronutrien dari makanan hewani.

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang jarang makan ikan, telur, atau daging pada usia dini lebih berisiko mengalami stunting. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memperkenalkan protein hewani sejak usia 6 bulan, disesuaikan dengan kemampuan mengunyah anak, serta disajikan dengan cara yang aman dan higienis.13 Dengan memberikan protein hewani secara rutin, kita tidak hanya membantu anak tumbuh tinggi, tapi juga membuatnya lebih cerdas, kuat, dan siap belajar di masa depan.

Telur adalah makanan hewani yang sederhana, murah, dan sangat bergizi. Penelitian menunjukkan, memberi satu butir telur setiap hari pada bayi usia 6–9 bulan selama enam bulan bisa membantu pertumbuhan dengan baik. Bayi yang makan telur setiap hari cenderung lebih tinggi dan risiko stunting-nya lebih rendah dibanding yang tidak makan telur. Artinya, cukup tambah satu telur sehari, dampaknya besar untuk tumbuh kembang anak. Telur juga mudah didapat dan cepat dimasak, jadi cocok jadi makanan harian bayi usia 6 bulan ke atas, sebagai pelengkap ASI.14 Dengan begitu, telur bisa jadi solusi simpel tapi ampuh untuk mencegah stunting sejak dini.

 

Pentingnya Variasi Sumber Protein Hewani

Tapi, protein hewani bukan cuma soal makan telur atau daging. Yang lebih penting adalah variasi. Semakin banyak jenis makanan hewani yang dikonsumsi bayi — seperti telur, ikan, daging, hati, atau susu — semakin baik tumbuh kembangnya. Anak yang makan lebih dari satu jenis makanan hewani punya risiko stunting yang lebih rendah dibanding yang hanya makan satu jenis.13

Mengapa harus bervariasi? Karena setiap makanan hewani punya keunggulan berbeda:

  • Ikan kaya omega-3 dan yodium, bagus untuk otak dan pertumbuhan.
  • Daging tinggi zat besi dan seng, penting untuk darah dan imunitas.
  • Telur mengandung kolin dan vitamin A, baik untuk otak dan mata.
  • Susu kaya kalsium dan protein, mendukung pertumbuhan tulang dan tinggi badan.

Jika dikombinasikan, makanan-makanan ini saling melengkapi. Anak tidak hanya tumbuh tinggi, tapi juga lebih sehat, kuat, dan cerdas. Jadi, penting bukan hanya memberi protein hewani, tapi juga bervariasi, sesuai dengan yang tersedia dan bisa dikonsumsi anak. Dengan begitu, semua nutrisi penting untuk masa emas tumbuh kembang bisa terpenuhi.

 

Protein Hewani Adalah Kebutuhan Wajib

Protein hewani bukan sekadar pelengkap, tapi bagian yang sangat penting dalam makanan bayi usia 6–24 bulan. Sayangnya, makanan pendamping ASI (MP-ASI) sering hanya berupa nasi, bubur, atau biskuit — yang bikin kenyang tapi kurang nutrisi. Padahal, lauk bergizi seperti telur, ikan, daging, atau hati justru yang dibutuhkan agar bayi tumbuh tinggi, kuat, dan cerdas.

Meski tampak kenyang, makan banyak karbohidrat tidak cukup untuk pertumbuhan optimal. Tubuh bayi butuh protein hewani yang mengandung asam amino esensial — zat yang tidak bisa dibuat sendiri dan hanya diperoleh dari makanan.

Bayi usia 6–24 bulan butuh sekitar 10–12 gram protein per hari,15 setara dengan 2 telur kecil atau 4 sendok makan daging/ayam/ikan halus. Memberi protein hewani secara rutin — meski sedikit — jauh lebih baik daripada hanya menambah porsi nasi.

Penelitian menunjukkan, anak yang makan protein hewani secara teratur lebih tinggi badannya dan risiko stunting-nya lebih rendah. Jadi, orang tua dan pengasuh perlu memastikan ada lauk hewani dalam setiap porsi makan bayi.

Intinya: protein hewani bukan kemewahan, tapi kebutuhan wajib. Dengan memberikannya secara rutin dan bervariasi, kita membantu anak tumbuh sehat, kuat, dan siap belajar di masa depan.

Ditulis oleh :  dr. Maria Galuh Kamenyangan Sari, M.Kes, Sp.A,Subsp NPM (K)

 

Referensi:

  1. https://www.who.int/publications/i/item/WHO-NMH-NHD-14.3
  2. Homan GJ. Am Fam Physician 2016:94;295-300
  3. Dewey KG. Reducing stunting by improving maternal, infant and young child nutrition in regions such as South Asia: evidence, challenges and opportunities. Matern Child Nutr. 2016 May;12 Suppl 1(Suppl 1):27-38. doi: 10.1111/mcn.12282. PMID: 27187908; PMCID: PMC5084734.
  4. John CC, Black MM, Nelson CA 3rd. Neurodevelopment: The Impact of Nutrition and Inflammation During Early to Middle Childhood in Low-Resource Settings. Pediatrics. 2017 Apr;139(Suppl 1):S59-S71. doi: 10.1542/peds.2016-2828H. PMID: 28562249; PMCID: PMC5694688.
  5. Morales, F.; Montserrat-de la Paz, S.; Leon, M.J.; Rivero-Pino, F. Effects of Malnutrition on the Immune System and Infection and the Role of Nutritional Strategies Regarding Improvements in Children’s Health Status: A Literature Review. Nutrients 2024, 16, 1. https://doi.org/10.3390/nu16010001
  6. Frisancho AR. Reduced rate of fat oxidation: A metabolic pathway to obesity in the developing nations. AM J Hum Biol. 2003; 15:522–532.
  7. Mendez MA, Adair LS. Severity and timing of stunting in the first two years of life affect performance on cognitive tests in late childhood. J Nutr. 1999 Aug;129(8):1555-62. doi: 10.1093/jn/129.8.1555. PMID: 10419990.
  8. Dewey KG, Begum K. Long-term consequences of stunting in early life. Maternal & Child Nutrition. 2011
  9. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi praktik pemberian makan bayi dan anak. IDAI.
  10. Dewey KG, Huffman SL. Maternal, infant, and young child nutrition: combining efforts to maximize impacts on child growth and micronutrient status. Food Nutr Bull. 2009 Jun;30(2 Suppl):S187-9. doi: 10.1177/15648265090302S201. PMID: 20496610.
  11. Parikh P, Semba R, Manary M, Swaminathan S, Udomkesmalee E, Bos R, Poh BK, Rojroongwasinkul N, Geurts J, Sekartini R, Nga TT. Animal source foods, rich in essential amino acids, are important for linear growth and development of young children in low- and middle-income countries. Matern Child Nutr. 2022 Jan;18(1):e13264. doi: 10.1111/mcn.13264. Epub 2021 Aug 31. PMID: 34467645; PMCID: PMC8710096.
  12. World Health Organization. WHO Guidline for complementary feeding of infant and young children 6-23 months of age; 2023.
  13. Headey D, Hirvonen K, Hoddinott J. Animal Sourced Foods and Child Stunting. Am J Agric Econ. 2018 Jul 31;100(5):1302-1319. doi: 10.1093/ajae/aay053. PMID: 33343003; PMCID: PMC7734193.
  14. Iannotti LL, Lutter CK, Stewart CP, Gallegos Riofrío CA, Malo C, Reinhart G, Palacios A, Karp C, Chapnick M, Cox K, Waters WF. Eggs in Early Complementary Feeding and Child Growth: A Randomized Controlled Trial. Pediatrics. 2017 Jul;140(1):e20163459. doi: 10.1542/peds.2016-3459. Epub 2017 Jun 7. PMID: 28588101.
  15. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis. IDAI; 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *