
RS UNS – Kasus penyakit campak di Indonesia tengah mengalami lonjakan signifikan. Berdasarkan data terbaru, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia untuk jumlah kasus campak. Menanggapi situasi tersebut, Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS) menggelar diskusi kesehatan bertajuk “Sudahkah Anak Anda Terlindungi dari Campak?” guna mengedukasi masyarakat mengenai bahaya, gejala, dan pencegahan penyakit menular ini.
Hadir sebagai narasumber, dokter spesialis anak RS UNS, dr. Debi Andina Landiasari, Sp.A, menjelaskan bahwa campak bukan sekadar ruam biasa, melainkan infeksi virus yang sangat menular melalui droplet (percikan ludah).
Kenali Gejala Khas “3C” dan Ruam Spesifik
dr. Debi menekankan pentingnya orang tua mengenali gejala awal sebelum ruam muncul. Gejala utama yang sering menyertai demam tinggi pada campak dikenal dengan istilah 3C:
- Cough (Batuk)
- Coryza (Pilek)
- Conjunctivitis (Mata merah dan berair)
“Karakteristik ruam campak juga sangat khas, yaitu muncul dari atas ke bawah (cephalocaudal). Dimulai dari belakang telinga atau wajah, lalu turun ke leher, badan, hingga kaki,” jelas dr. Debi. Ia juga membedakan campak dengan penyakit ruam lain seperti Roseola, di mana pada Roseola ruam justru muncul saat demam sudah turun.
Bahaya Komplikasi dan Pentingnya Isolasi
Penyakit ini tidak boleh diremehkan karena dapat memicu komplikasi berat seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), dehidrasi, hingga kebutaan. Oleh karena itu, anak yang terinfeksi wajib menjalani isolasi selama minimal 8 hari (4 hari sebelum ruam muncul hingga 4 hari setelah ruam muncul) untuk memutus rantai penularan.
Imunisasi: Benteng Pertahanan Utama
Langkah pencegahan yang paling efektif adalah melalui imunisasi. dr. Debi mengimbau orang tua untuk memenuhi jadwal vaksinasi MR/MMR anak:
- Dosis Primer: Usia 9 bulan.
- Booster: Usia 18 bulan dan 5 tahun.
Bagi anak yang jadwalnya terlewat, dr. Debi menegaskan adanya program catch-up imunisasi. “Vaksin campak bisa dikejar bahkan hingga anak berusia 18 tahun. Meskipun vaksin tidak menjamin 100% anak tidak terkena, namun jika terinfeksi, gejalanya akan jauh lebih ringan dibandingkan anak yang tidak divaksin sama sekali,” tambahnya.
Tips Menjelang Hari Raya
![]() |
![]() |
Menghadapi masa libur Lebaran dan kerumunan, RS UNS memberikan beberapa tips tambahan:
- Perkuat Nutrisi: Pastikan asupan ASI eksklusif dan MPASI yang adekuat untuk daya tahan tubuh optimal.
- Protokol Kesehatan: Tetap gunakan masker bagi orang dewasa di sekitar balita dan hindari membawa anak ke kerumunan jika tidak mendesak.
- Segera Konsultasi: Jika anak mengalami demam disertai sesak napas, kejang, atau penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk perawatan intensif.
“Panik jangan, tapi pencegahan efektif harus dilakukan. Segera lengkapi imunisasi sebagai bentuk ikhtiar melindungi buah hati,” tutup dr. Debi.


