
RS UNS – Pernahkah Anda mengalami rasa nyeri yang menjalar secara tajam, sensasi kesemutan, atau hingga mati rasa pada area leher belakang dan punggung bawah? Gejala-gejala tersebut dapat menjadi indikasi adanya kondisi saraf kejepit. Gejala ini bukan sekadar “pegal biasa,” melainkan sinyal “SOS” dari tubuh yang jika diabaikan bisa berdampak serius dan perlu penanganan medis yang tepat. Artikel ini akan mengulas lebih mendalam mengenai definisi saraf kejepit, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, hingga berbagai pilihan terapi, termasuk prosedur pembedahan.
Apa Itu Saraf Kejepit?
Dalam terminologi medis, saraf kejepit disebut sebagai radikulopati. Merujuk pada penjelasan Cleveland Clinic, kondisi ini muncul saat akar saraf di sepanjang kolom tulang belakang mengalami tekanan (kompresi) atau iritasi. Saraf Kejepit (Radikulopati) ibarat “kabel listrik yang terhimpit benda berat,” sehingga aliran listriknya (sinyal saraf) menjadi kacau (nyeri/kesemutan). Struktur tulang belakang manusia terdiri dari 33 tulang individu yang disebut vertebra. Di antara tulang-tulang tersebut, terdapat cakram intervertebralis yang merupakan struktur lunak menyerupai bantalan yang empuk. Cakram ini berfungsi sebagai peredam guncangan sekaligus memberikan fleksibilitas pada tulang belakang.
Dari area sumsum tulang belakang, terdapat 31 pasang akar saraf yang menyebar keluar melalui celah kecil yang disebut foramen intervertebralis. Saraf kejepit terjadi apabila celah tersebut menyempit atau terdapat jaringan lain—seperti tulang, cakram intervertebral, otot, maupun tendon—yang menekan saraf.
Lokasi saraf kejepit bervariasi, meliputi area leher (servikal), punggung bagian atas/tengah (toraks), atau punggung bawah (lumbal). Kasus yang paling sering ditemukan adalah pada leher (servikal) dan punggung bawah (lumbal), yang ditandai dengan nyeri hingga ke area tangan atau kaki. Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, mempelajari riwayat medis, dan pemeriksaan Elektroneuromiografi (ENMG) serta menggunakan uji pencitraan seperti MRI atau CT scan guna melihat kondisi saraf dan jaringan di sekitarnya secara akurat.
Faktor Penyebab
Penyebab saraf kejepit sangat beragam, mulai dari trauma mendadak, gaya hidup hingga proses penuaan atau kombinasi. Berikut adalah beberapa faktor pemicunya:
-
Faktor Degeneratif (Penuaan)
-
-
- Herniasi Diskus: Penyebab tersering di mana cakram intervertebralis menonjol keluar dan menekan saraf;
- Taji Tulang (Bone Spurs): Pertumbuhan tulang yang menonjol pada persendian, sering dikaitkan dengan osteoartritis pada individu di atas usia 50 tahun;
- Stenosis: Penyempitan pada saluran atau kanal tulang belakang;
- Artritis: Termasuk osteoartritis dan rheumatoid arthritis.
- Spondilolistesis: Kondisi ketika satu ruas tulang belakang bergeser dari posisi seharusnya.
-
-
Faktor Gaya Hidup
-
-
- Cedera akibat kecelakaan atau jatuh;
- Aktivitas fisik dengan gerakan berlebihan (terutama membungkuk);
- Postur tubuh yang tidak ideal;
- Obesitas;
- Penyakit Diabetes Mellitus.
-
Gejala yang Muncul
Gejala saraf kejepit bisa terjadi dalam jangka pendek maupun panjang, dan biasanya memburuk saat tubuh melakukan gerakan tertentu. Tanda utama dari saraf kejepit adalah rasa nyeri pada area yang terdampak, baik berupa nyeri tajam, denyutan, maupun sensasi panas menyengat. Gejala penyerta lainnya meliputi:
- Mati rasa atau kebas pada area yang sarafnya tertekan.
- Kesemutan (serupa dengan sensasi kaki yang tertidur setelah duduk bersila).
- Melemahnya fungsi otot di sekitar saraf yang terganggu.
- Menurunnya refleks tubuh pada bagian tertentu.
Pilihan Terapi dan Pengobatan
Mayoritas kasus saraf kejepit dapat ditangani melalui metode konservatif tanpa operasi. Langkah awal adalah mengistirahatkan area yang sakit dan menghindari aktivitas pemicu, namun mitosnya harus istirahat total di tempat tidur. Padahal bed rest terlalu lama justru menghambat pemulihan; aktivitas dan latihan fisik ringan sangat disarankan.
Pilihan terapi lain meliputi:
- Terapi Suhu: Kompres dingin untuk menekan peradangan pada kurun waktu sebelum 3 hari setelah nyeri muncul, dilanjutkan dengan kompres hangat untuk melancarkan sirkulasi darah dan merelaksasi otot 3 hari setelah nyeri muncul.
- Medikamentosa: Pemberian obat-obatan seperti ibuprofen, diklofenak, perelaksasi otot, obat anti-kejang, hingga kortikosteroid sesuai resep dokter.
- Fisioterapi: Program latihan khusus untuk memperkuat otot, meningkatkan kelenturan, dan mengurangi tekanan pada saraf.
- Suntikan Steroid Epidural: Dilakukan jika terapi lain belum berhasil, dengan menyuntikkan kortikosteroid langsung ke area saraf yang meradang.
Kapan Tindakan Bedah Diperlukan?
Berdasarkan literatur dari Mayo Clinic, pembedahan dipertimbangkan jika nyeri tidak kunjung membaik setelah beberapa bulan pengobatan konservatif. Di sisi lain jika ditemukan kelemahan anggota gerak atau gangguan Buang Air Kecil (BAK) atau Buang Air Besar (BAB) yang berkaitan dengan saraf kejepit maka juga dapat dipertimbangkan tindakan pembedahan radiofrekuensi atau dekompresi dengan berbagai macam metode.
Rekomendasi Medis
Jangan biarkan saraf kejepit membatasi hidup Anda. Dengan upaya medis dan rehabilitasi yang tepat, pemulihan adalah hal yang sangat mungkin. Konsultasikan keluhan Anda ke Poli Saraf RS UNS untuk penanganan yang tepat dan akurat.
Ditinjau oleh: dr. Faris Khairuddin Syah, Sp.N.
Daftar Pustaka:
- Hopkins Medicine. (n.d.). Radiculopathy. Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/radiculopathy [Diakses 9 Januari 2026]
- Mayo Clinic. (n.d.). Pinched nerve: Diagnosis & treatment. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pinched-nerve/diagnosis-treatment/drc-20354751 [Diakses 9 Januari 2026]
- (n.d.). Lumbar radiculopathy treatment. https://www.physio-pedia.com/Lumbar_Radiculopathy_Treatment [Diakses 9 Januari 2026]
- Mansfield, M., Smith, T., Spahr, N., & Thacker, M. Cervical spine radiculopathy epidemiology: A systematic review. PubMed; National Center for Biotechnology Information. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32710604/ [Diakses 9 Januari 2026]
- Elsayed, G. A. (n.d.). Microdiscectomy spine surgery: Risks, complications, and success rates. Spine-health. https://www.spine-health.com/treatment/back-surgery/microdiscectomy-spine-surgery-risks-complications-and-success-rates [Diakses 9 Januari 2026]
