Memahami Hipertensi: Strategi Mengendalikan Tekanan Darah Tinggi

Memahami Hipertensi: Strategi Mengendalikan Tekanan Darah Tinggi

RS UNS – Hipertensi sering dijuluki sebagai “pembunuh senyap” karena gejalanya yang jarang disadari oleh penderita. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini berpotensi memicu komplikasi fatal seperti stroke, gagal ginjal, hingga penyakit jantung koroner. Oleh karena itu, sangat krusial bagi kita untuk memahami faktor pemicunya serta langkah-langkah untuk menurunkan maupun mencegah kenaikan tekanan darah.

 

Apa Itu Hipertensi?

Secara medis, hipertensi didefinisikan sebagai gangguan kesehatan kronis di mana tekanan darah pada dinding arteri berada di atas batas normal. Indikatornya diukur melalui dua angka: sistolik (saat jantung berdenyut) dan diastolik (saat jantung beristirahat).

Berdasarkan standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seseorang didiagnosis hipertensi apabila hasil pemeriksaan di fasilitas kesehatan menunjukkan angka sistolik ≥ 140 mmHg dan/atau angka diastolik ≥ 90 mmHg.

Pada tahun 2023, WHO mencatat bahwa sekitar 33% penduduk dunia menderita hipertensi, dengan konsentrasi kasus tertinggi berada di negara-negara berkembang. Hal ini menjadi pengingat bagi kita untuk lebih waspada terhadap kesehatan pembuluh darah.

 

Klasifikasi Angka Tekanan Darah

Memantau angka tekanan darah adalah langkah awal dalam menjaga kesehatan kardiovaskular. Berikut adalah kategori tekanan darah secara umum:

 

Kategori Tekanan Sistolik (mmHg) Tekanan Diastolik (mmHg)
Normal Sekitar 120 Sekitar 80
Prahipertensi 120 – 129 Kurang dari 80
Hipertensi Tahap 1 130 – 139 80 – 89
Hipertensi Tahap 2 ≥ 140 ≥ 90
Krisis Hipertensi Di atas 180 Di atas 120

Catatan: Tekanan darah bersifat fluktuatif tergantung aktivitas dan kondisi emosional. Diagnosis medis biasanya baru ditegakkan setelah melalui beberapa kali pemeriksaan di waktu yang berbeda.

 

Faktor Pemicu Hipertensi

Penyebab tekanan darah tinggi biasanya merupakan gabungan dari berbagai faktor. Beberapa di antaranya bersifat permanen, sementara yang lain bisa diperbaiki melalui perubahan kebiasaan.

•        Faktor yang Tidak Bisa Diubah

– Usia: Risiko meningkat seiring bertambahnya umur (umumnya setelah pria menginjak usia 45 tahun dan wanita 55 tahun).

– Genetik: Memiliki orang tua atau kerabat dekat dengan riwayat hipertensi memperbesar peluang seseorang mengalami hal yang sama.

– Jenis Kelamin: Secara statistik, pria lebih rentan terkena hipertensi di usia muda, meski wanita memiliki risiko lebih tinggi saat memasuki usia lanjut.

 

•        Faktor yang Bisa Dikendalikan

– Kurang Aktivitas Fisik: Jarang berolahraga dapat memicu obesitas dan meningkatkan tekanan darah.

– Berat Badan Berlebih: Lemak tubuh yang berlebih memberikan beban tambahan pada kerja jantung dan pembuluh darah.

– Konsumsi Garam Berlebih: Kadar natrium yang tinggi mengikat cairan dalam tubuh, sehingga volume darah meningkat.

– Kebiasaan Merokok dan Alkohol: Keduanya merusak integritas pembuluh darah dan menyebabkan penyempitan aliran darah.

– Stres dan Kurang Tidur: Kondisi mental yang tertekan serta waktu istirahat yang tidak memadai dapat memicu pelepasan hormon yang menaikkan tekanan darah secara berkala.

 

Strategi Mencegah dan Mengendalikan Tekanan Darah Tinggi

Langkah pencegahan dan pengobatan hipertensi sebenarnya memiliki prinsip yang serupa, yaitu konsistensi dalam menjalani gaya hidup sehat. Berikut adalah beberapa langkah efektif:

•        Menerapkan Diet: Fokus pada konsumsi buah, sayur, gandum utuh, dan protein rendah lemak, serta membatasi kolesterol.

•        Batasi Natrium: Konsumsi garam tidak boleh lebih dari 5 gram atau setara dengan satu sendok teh per hari.

•        Asupan Nutrisi Pendukung: Perbanyak kalium (pisang, alpukat) dan magnesium (sayuran hijau) untuk membantu pembuluh darah lebih rileks.

•        Olahraga Rutin: Lakukan aktivitas aerobik seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang untuk memperkuat otot jantung.

•        Manajemen Stres dan Tidur: Lakukan teknik relaksasi dan pastikan tidur berkualitas selama 7-9 jam setiap malam.

•        Konsultasi Medis: Bagi penderita yang sudah didiagnosis, perubahan gaya hidup harus dibarengi dengan konsumsi obat-obatan sesuai resep dokter serta pemantauan tekanan darah secara mandiri di rumah.

Hipertensi memang kondisi yang serius, namun sangat mungkin untuk dikelola dan dicegah. Dengan memahami risiko dan disiplin dalam menerapkan gaya hidup sehat, kita dapat melindungi diri dari ancaman komplikasi kesehatan di masa depan.

 

Komplikasi Akibat Hipertensi

Hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada struktur pembuluh darah serta berbagai organ vital akibat paparan tekanan hemodinamik yang tinggi secara berkelanjutan.Kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi kesehatan sebagai berikut:

•        Penyakit Jantung (Gagal Jantung & Serangan Jantung): Tekanan darah tinggi memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah. Hal ini menyebabkan penebalan otot jantung (hipertrofi) dan penyempitan arteri, yang berisiko memicu serangan jantung atau kegagalan fungsi pompa jantung.

•        Stroke: Hipertensi dapat menyebabkan pembuluh darah di otak menyempit, pecah, atau mengalami penyumbatan. Gangguan aliran darah ini mengakibatkan sel-sel otak mati dan memicu kelumpuhan hingga kematian.

•        Penyakit Ginjal Kronis: Ginjal berfungsi menyaring limbah darah melalui pembuluh darah halus. Tekanan darah yang terus-menerus tinggi merusak pembuluh tersebut, sehingga ginjal kehilangan kemampuan untuk menyaring kotoran dan dapat berakhir pada gagal ginjal.

•        Retinopati Hipertensi (Kerusakan Mata): Tekanan tinggi merusak pembuluh darah kecil di retina mata. Hal ini dapat menyebabkan penglihatan kabur, perdarahan pada mata, hingga kebutaan permanen.

•        Sindrom Metabolik: Penderita hipertensi sering kali mengalami kumpulan gangguan metabolisme, termasuk peningkatan kadar insulin, lingkar pinggang yang membesar, dan kadar kolesterol “baik” (HDL) yang rendah, yang meningkatkan risiko diabetes.

•        Aneurisma: Tekanan darah yang kronis dapat menyebabkan dinding pembuluh darah melemah dan menonjol (seperti balon). Jika tonjolan ini pecah, dapat terjadi perdarahan internal yang mengancam nyawa.

•        Gangguan Kognitif dan Demensia: Aliran darah yang terganggu ke otak akibat rusaknya arteri dapat membatasi asupan oksigen dan nutrisi, yang berujung pada masalah memori, konsentrasi, hingga demensia vaskular.

Ditinjau Oleh: dr. Evi Liliek Wulandari, Sp.PD., M.Kes.

Daftar Pustaka:

  1. World Health Organization. (2025). Hypertension. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension [Diakses 29 Desember 2025]
  2. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Prevent high blood pressure. https://www.cdc.gov/high-blood-pressure/prevention/index.html [Diakses 29 Desember 2025]
  3. Medical News Today. (2023). Is hypertension genetic?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/is-hypertension-genetic [Diakses 29 Desember 2025]
  4. Johns Hopkins Medicine. (n.d.). High blood pressure: Prevention, treatment and research. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/high-blood-pressure-hypertension/high-blood-pressure-prevention-treatment-and-research [Diakses 29 Desember 2025]
  5. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Ketahui Komplikasi Tekanan Darah Tinggi. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3616/ketahui-komplikasi-tekanan- [Diakses 9 Januari 2026]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *