UNS – Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia 2025, Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS) Surakarta kembali menggelar acara Dialog Sehat. Tema yang diangkat kali ini adalah “Mengenal TB Paru pada Pasien dengan Komorbid DM”. Acara ini disiarkan langsung melalui akun Instagram dan kanal YouTube RS UNS pada Senin (24/3/2025), dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai tuberkulosis (TB) dan Diabetes Melitus (DM), dua penyakit yang sering ditemui di Indonesia.
Acara ini dipandu oleh Dr. Linda Soebroto, Sp.P., Dokter Spesialis Paru di RS UNS, yang bertindak sebagai host, dengan menghadirkan dua narasumber ahli, yaitu Dr. Hendrastutik Apriningsih, dr., Sp.P(K), M.Kes., FISR, seorang Dokter Spesialis Paru Konsultan, dan dr. Berty Denny Hermawati, Sp.PD., FINASIM, seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam, keduanya dari RS UNS. Keduanya memberikan penjelasan mendalam mengenai tuberkulosis dan diabetes melitus dari sudut pandang medis masing-masing.
Dr. Hendrastutik menjelaskan bahwa Tuberkulosis (TB) Paru, yang juga dikenal dengan istilah flek paru, adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Meskipun umumnya menyerang paru-paru, TB juga dapat mempengaruhi organ lain seperti tulang, ginjal, dan otak. Beliau menekankan pentingnya kesadaran masyarakat, mengingat Indonesia berada di urutan kedua dunia dengan kasus TB tertinggi setelah India.
“Kasus TB di Indonesia cukup tinggi, jadi masyarakat harus lebih waspada dan mulai sadar untuk deteksi dini. Ketika penyakit ini terdeteksi lebih awal, pengobatannya akan lebih efektif. Salah satu kebingungan di masyarakat adalah terkait penularan TB, yang sebenarnya adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri melalui percikan dahak, batuk, atau bersin,” ungkap Dr. Hendrastutik.
Selanjutnya, Dr. Hendrastutik menyebutkan kelompok-kelompok yang lebih rentan terhadap TB, yaitu anak-anak balita yang sistem imunnya belum sempurna, lansia (60 tahun ke atas), serta individu dengan kondisi komorbid, seperti diabetes melitus, gagal ginjal kronis, dan HIV, yang memiliki sistem imun lebih lemah sehingga lebih mudah terinfeksi bakteri TB.
Dr. Berty Denny Hermawati, Sp.PD., FINASIM, menjelaskan mengenai Diabetes Melitus (DM), atau yang lebih dikenal dengan kencing manis, yang merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. DM terjadi karena kekurangan atau terganggunya fungsi hormon insulin. “Berbeda dengan TB, DM adalah penyakit yang tidak menular, meskipun ada faktor keturunan yang mempengaruhi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki orang tua dengan DM memiliki risiko 30% untuk terkena DM. Jika kedua orang tua menderita DM, risiko anak untuk mengidap DM bisa meningkat hingga 50%,” ujar Dr. Berty.
Gaya hidup yang tidak sehat menjadi faktor utama yang memicu timbulnya DM. Kebiasaan makan yang tidak terkontrol, kurangnya aktivitas fisik, serta faktor-faktor lainnya dapat menyebabkan seseorang terkena diabetes. Oleh karena itu, menjaga gaya hidup yang sehat sangat penting untuk memperkuat sistem imun dan mencegah penyakit ini. Beberapa tips yang dapat diterapkan termasuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara rutin, serta menjaga agar komorbid tetap terkontrol dengan pengobatan yang tepat.
Dalam sesi ini, kedua narasumber sepakat bahwa menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk deteksi dini terhadap penyakit-penyakit ini, sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat, terutama bagi mereka yang memiliki komorbid.