
RS UNS – Puasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban bagi umat Islam yang telah akil baligh. Anak-anak belum diwajibkan berpuasa, tapi orang tua bisa mulai mengenalkannya secara bertahap. Anak bukanlah orang dewasa dalam versi kecil, sehingga cara mereka berpuasa harus menyesuaikan dengan pertumbuhan fisik dan mentalnya. Fokusnya bukan seberapa lama anak bisa menahan lapar, tapi bagaimana mereka memahami arti puasa dengan tenang, aman, dan tetap sehat.
Kapan Anak Siap Untuk Berpuasa?
Setiap anak punya kondisi tubuh dan kesiapan yang berbeda. Beberapa anak mungkin sudah bisa berpuasa 12 jam, sementara yang lain perlu menunggu lebih lama. Jadi, jangan membandingkan anak satu dengan yang lain. Orang tua harus fokus pada proses dan dukungan, bukan pada pencapaian atau pembuktian.
Setelah berpuasa selama empat sampai enam jam, tubuh akan mulai memecah cadangan gula (glikogen) dalam tubuh untuk menjaga agar kadar gula dalam darah stabil. Apabila puasa dilanjutkan hingga mencapai 16 jam, maka perlahan cadangan glikogen akan habis dan sebagai kompensasi tubuh kemudian akan menggunakan lemak yang ada sebagai sumber energi.1 Sedangkan protein sebagai zat pembangun tubuh merupakan komponen terakhir yang akan dipakai bila puasa terus berlanjut. Secara fisik, tubuh anak yang masih kecil memiliki cadangan energi (glikogen) yang sedikit, sehingga lebih rentan mengalami lemas atau dehidrasi jika berpuasa terlalu lama.2 Karena itu, usia 7 tahun dapat menjadi titik awal yang aman untuk memulai berpuasa. Semakin besar usia anak, risiko gangguan kesehatan seperti hipoglikemia (gula darah turun) semakin kecil. Anak usia 10 tahun ke atas umumnya sudah punya kadar glukosa darah yang sama normalnya dengan kadar glukosa dewasa setelah berpuasa selama 24 jam.3
Dari sisi perkembangan kognitif, sejak usia 6–7 tahun anak mulai bisa memahami aturan, sebab-akibat, dan makna dari suatu tindakan—termasuk puasa. Dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, anak bisa bilang kalau merasa lemah atau lapar, yang membantu orang tua menjaga kesehatannya. Penelitian menunjukkan bahwa puasa tidak mengganggu performa akademik anak usia 12 tahun.4 Tapi, tetap saja setiap anak unik. Keputusan mulai puasa harus diputuskan berdasarkan kondisi masing-masing, bukan karena ikut-ikutan.
Bagaimana Cara Mengajari Anak Berpuasa Secara Bertahap?
Orang tua bisa mulai mengajarkan puasa kepada anak secara bertahap, terutama pada usia 7–10 tahun. Awali dengan puasa pendek, misalnya dari sahur hingga waktu shalat Dzuhur (sekitar 6–8 jam), agar tubuh anak bisa beradaptasi perlahan. Lama-kelamaan, durasi bisa diperpanjang hingga berbuka di saat Magrib. Anak di atas 10 tahun biasanya sudah siap berpuasa penuh. Selain itu, orang tua bisa memulai dengan tidak memberi makanan padat terlebih dahulu, tapi tetap mengizinkan minum air untuk mencegah dehidrasi, karena tubuh anak umumnya masih bisa bertahan tanpa cairan selama 2–4 jam. Cara lainnya adalah dengan puasa secara selang-seling, misalnya hanya pada hari Senin, Rabu, dan Jumat, lalu secara bertahap dilakukan setiap hari. Pendekatan bertahap seperti ini membantu anak belajar disiplin tanpa merasa terbebani, dan menjadikan puasa sebagai pengalaman yang positif dan sehat.
Apa Dampak Positif Puasa Bagi Anak?
Puasa tidak hanya sebagai ibadah, tetapi juga dapat membantu menjaga kesehatan tubuh anak bila dilakukan dengan benar. Saat berpuasa, tubuh menjadi lebih efisien dalam menggunakan energi, sel lebih responsif terhadap insulin, serta terjadi penurunan stres oksidatif dan peradangan yang membantu mencegah penyakit serius seperti kanker, memperkuat sistem imun, dan mengurangi penuaan dini. Puasa juga memberi kesempatan bagi saluran pencernaan untuk beristirahat, sehingga hati dan ginjal bisa lebih baik dalam membersihkan racun dari tubuh. Dengan jadwal makan yang teratur saat sahur dan berbuka, anak belajar disiplin makan, mencegah kebiasaan makan berlebihan, serta mengurangi risiko obesitas. Dari sisi perkembangan, puasa melatih anak untuk mengendalikan diri, menahan keinginan, mengelola rasa lapar dan haus, serta memahami batas kemampuannya. Mereka juga belajar mengikuti aturan, menghargai waktu, bersabar, dan menyelesaikan apa yang telah dimulai. Dengan pendampingan orang tua, puasa menjadi pengalaman positif yang membentuk karakter tangguh, emosional terkendali, dan hidup sehat.
Nutrisi Apa Saja Yang Perlu Dicukupkan Pada Anak Yang Berpuasa di Bulan Puasa?
Orang tua perlu memastikan anak makan makanan bergizi seimbang saat sahur dan berbuka, mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Saat berbuka, berikan makanan manis dengan indeks glikemik tinggi seperti buah, madu, atau susu untuk cepat mengembalikan energi. Sementara saat sahur, pilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, atau ubi yang mencerna lebih lambat, sehingga membantu menjaga rasa kenyang lebih lama. Tambahkan juga makanan kaya protein, lemak sehat, dan serat untuk memperlambat rasa lapar. Agar anak tetap semangat makan, sajikan makanan dengan variasi bentuk dan rasa. Pastikan anak minum cukup cairan di luar jam puasa untuk mencegah dehidrasi. Berbuka segera setelah waktu tiba dan beri makan sahur mendekati waktu imsak agar puasa anak lebih aman dan sehat.
Kondisi Apa Saja Yang Perlu Diperhatikan Orang Tua Pada Anak Yang Berpuasa?
Orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda bahwa anak tidak sanggup berpuasa, seperti lemas, pucat, berkeringat, tangan dan kaki dingin, hingga pingsan, yang bisa menjadi gejala hipoglikemia atau dehidrasi. Keluhan anak harus dipercaya dan tidak boleh dianggap hanya karena malas. Jika muncul gejala tersebut atau anak merasa mual, pusing, kembung, atau sangat rewel, puasa sebaiknya segera dihentikan. Anak yang aktif bergerak atau sedang bersekolah pun membutuhkan energi lebih, sehingga orang tua harus menyesuaikan kondisi fisik anak, bukan menuntut ketahanan. Kemampuan berpuasa bukan soal kuat atau lemah, melainkan kesiapan tubuh. Yang terpenting, puasa belum wajib bagi anak, jadi membatalkan puasa untuk alasan kesehatan bukan kegagalan, melainkan bentuk tanggung jawab orang tua demi kesejahteraan anak.
Pertolongan Pertama Apa Yang Bisa Dilakukan Orangtua Ketika Anak Mengalami Hipoglikemia atau Dehidrasi?
Orang tua perlu mengetahui pertolongan pertama jika anak mengalami hipoglikemia atau dehidrasi saat puasa. Jika anak masih sadar, berikan larutan gula (1 sendok teh gula dalam seperempat gelas air) dan cukupi cairan tubuhnya dengan memberi air putih; namun jika tidak sadar, segera bawa ke fasilitas kesehatan.
Kapan Anak Diperbolehkan Untuk Tidak Berpuasa?
Anak yang sakit akut, kurang gizi, memakai obat rutin dengan jadwal ketat, atau memiliki penyakit seperti gangguan metabolisme (misalnya glycogen storage disease), tidak boleh dipaksa berpuasa karena berisiko memperburuk kondisi. Konsultasi dengan dokter sangat penting untuk memastikan kesiapan anak berpuasa. Pengaturan ketika anak mendapatkan obat ketika bulan Ramadhan, harus disesuaikan, jika obat harus diminum tiap 6–8 jam, anak sebaiknya tidak berpuasa agar pengobatan tetap berjalan.
Bagaimana Pengaturan Pola Tidur Anak Ketika Puasa?
Anak tetap harus tidur 8-9 jam, minimal 7 atau 8 jam pada saat bulan puasa. Jika ia mau sahur, pastikan anak tidur cepat. Jika tidak, maka satu bulan penuh tidur anak akan terganggu, sehingga berdampak pada hormon, metabolisme, dan pubertasnya.
Tips Agar Anak Merasa Ringan Untuk Berpuasa:
- Mulai secara bertahap dengan puasa beberapa jam, lalu tingkatkan secara perlahan sesuai kemampuan anak.
- Makanan bergizi seimbang saat sahur dan buka.
- Minum yang cukup pada waktu tidak puasa, sahur dan buka.
- Mengakhirkan waktu sahur. Hal ini karena sahur merupakan bekal terakhir bagi anak untuk menjalankan puasa. Oleh karena itu semakin akhir waktu sahur maka semakin lama bekal nutrisi akan bertahan di dalam tubuh anak.
- Memberi makan berbuka yang disukai oleh anak. Tanya kepada anak makanan apa yang ia inginkan untuk berbuka. Ini akan menambah motivasi anak untuk berpuasa.
- Hanya memberikan aktivitas fisik yang ringan pada anak.
- Istirahat yang cukup dan tidur siang.
- Memberi distraksi terhadap rasa lapar pada anak seperti membaca buku, bermain ringan bersama teman yang sesama berpuasa (memberikan atmosfer berpuasa), menghias rumah menyambut lebaran, jalan-jalan sekitar rumah (ngabuburit) atau menyiapkan makanan berbuka.
- Ajari anak bahwa puasa tidak hanya bertujuan untuk menahan lapar dan haus tetapi juga melatih disiplin, kesabaran dan rasa syukur.
- Hargai dan beri apresiasi seberapa lamapun anak sanggup berpuasa.
- Pantau kondisi fisik anak, ajari anak untuk mengkomunikasikan apa yang ia rasakan pada saat berpuasa. Jika naka tidak merasa sehat maka, berikan kesempatan untuk berbuka lebih awal.
- Orangtua memberi contoh berpuasa yang baik. Hal ini penting karena naka belajar dari apa yang ia lihat dan ia rasakan.
Orang tua perlu peka terhadap anak, mendengarkan keluhannya, dan menghargai usaha kecil yang sudah dicurahkan. Anak yang baru bisa puasa sampai dzuhur atau asar tetap layak diapresiasi — yang penting adalah proses belajar, bukan berapa lama mereka menahan lapar. Hindari membandingkan anak dengan saudara atau temannya. Tiap anak punya kapasitas dan kesiapan berbeda. Kalimat seperti “kurang kuat” atau “tidak semangat” justru bisa melukai hati dan membuat anak enggan mencoba lagi. Biarkan anak jujur tentang kondisinya, dan beri ruang untuk berbuka jika tidak kuat. Anak akan merasa aman, didukung, dan lebih siap belajar ibadah sekaligus membentuk karakter, bukan sebagai beban. Dengan dukungan penuh kasih, puasa bisa menjadi pengalaman positif yang membangun kepercayaan diri dan kedekatan emosional antara anak dan orang tua.
Ditulis oleh:
- Hasriza Eka Putra, dr., SpA., MSc.
- Maria Galuh Kamenyangan Sari, dr., Sp.A Subsp NPM (K)., M.Kes.
Referensi:
- https://www.jaypeedigital.com/eReader/chapter/9789350250631/ch1
- Wilco C.W.R. Zijlmans, Anne A.M.W. van Kempen, Mireille J. Serlie, Hans P. Sauerwein. Glucose metabolism in children: influence of age, fasting, and infectious diseases. Metabolism. 2009;58:1356-65.ISSN 0026-0495. https://doi.org/10.1016/j.metabol.2009.04.020
- Chaussain JL, Georges P, Calzada L, Job JC. Glycemic response to 24-hour fast in normal children: III. Influence of age. J Pediatr. 1977 Nov;91(5):711-4. doi: 10.1016/s0022-3476(77)81020-2. PMID: 909008
- Farooq A, Herrera CP, Almudahka F, Mansour R. A Prospective Study of the Physiological and Neurobehavioral Effects of Ramadan Fasting in Preteen and Teenage Boys. Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics. 2015;115:889-97.ISSN 2212-2672. https://doi.org/10.1016/j.jand.2015.02.012
