RS UNS Kupas Tuntas Bahaya Child Grooming: Menjaga Batas Aman dalam Berinteraksi

RS UNS Kupas Tuntas Bahaya Child Grooming: Menjaga Batas Aman dalam Berinteraksi

RS UNS – Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS) kembali menyelenggarakan edukasi kesehatan melalui acara “Live Dialog Sehat” dengan topik yang sangat krusial bagi masyarakat: “Mengenal Child Grooming: Menjaga Batas Aman dalam Berinteraksi”.

 

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Rohmaningtyas H. S., dr., Sp.KJ., M.Kes., Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS UNS, yang dipandu oleh dr. Adinda Sekar Ayu (PPDS Psikiatri FK UNS). Dialog ini menyoroti bagaimana proses manipulasi halus oleh predator seksual dapat menjerat anak-anak dan remaja tanpa mereka sadari.

 

Apa Itu Child Grooming?

 

Dalam dialog tersebut, Dr. Rohmaningtyas menjelaskan bahwa istilah grooming secara harafiah berarti merawat atau menjinakkan. Namun, dalam konteks psikologi forensik, ini adalah proses sistematis di mana pelaku membangun hubungan emosional, kepercayaan, dan ikatan dengan korban untuk tujuan eksploitasi, baik secara seksual maupun finansial.

 

“Berbeda dengan kekerasan seksual yang bersifat impulsif, child grooming adalah sebuah proses pendekatan yang terstruktur. Pelaku sering kali mengisi ‘ruang kosong’ yang tidak didapatkan anak dari lingkungannya, misalnya melalui pujian, hadiah, atau perhatian intens yang membuat korban merasa spesial,” jelas Dr. Rohmaningtyas.

 

Waspadai Pelaku dari Lingkaran Terdekat

 

Fakta penting yang diungkap dalam sesi ini adalah pelaku sering kali merupakan orang yang dikenal atau dianggap aman oleh korban, seperti saudara, guru, atau bahkan pasangan (pacar) dalam hubungan asmara remaja. Pelaku memanfaatkan posisi mereka yang lebih dewasa atau dominan untuk membuat korban merasa tergantung (dependen) dan tidak berdaya untuk melapor.

 

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

 

RS UNS menghimbau para orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak, di antaranya:

  • Perilaku Rahasia: Anak mulai menyembunyikan sesuatu, seperti menjadi sangat protektif terhadap ponsel atau menarik diri saat ditanya.
  • Perubahan Mood: Anak yang biasanya ceria menjadi pendiam, sering mengurung diri, atau mengalami gangguan tidur dan makan.
  • Penurunan Prestasi: Terjadi penurunan nilai akademik secara drastis tanpa alasan yang jelas.
  • Ketergantungan Digital: Posesif terhadap gadget dan merasa cemas atau takut jika tidak segera membalas pesan dari seseorang.

 

Langkah Pencegahan: Body Autonomy dan Komunikasi

 

Sebagai langkah preventif, Dr. Rohmaningtyas menekankan pentingnya mengajarkan hak atas tubuh sendiri (body autonomy) sejak dini:

  1. Edukasi Seks Usia Dini: Mengajari anak bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang lain.
  2. Memberi Contoh Izin: Orang tua sebaiknya meminta izin saat hendak mengganti baju anak agar anak paham konsep batasan dan privasi.
  3. Menghargai Penolakan Anak: Jika anak menolak dipeluk atau dicium (sekalipun oleh keluarga), orang tua harus menghargai hak tersebut agar anak belajar berani berkata “tidak” pada orang lain.
  4. Komunikasi Terbuka: Menciptakan ruang diskusi yang nyaman sehingga anak tidak takut bercerita jika mengalami hal yang membuatnya tidak nyaman.

 

“Posisikan orang tua sebagai tempat kembali yang aman. Jangan menghakimi (judgmental), sehingga anak merasa bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan selalu aman dan didukung oleh orang tuanya,” tambah Dr. Rohmaningtyas.

 

Layanan Konsultasi di RS UNS

Jika ditemukan perubahan perilaku yang signifikan atau indikasi trauma pada anak, RS UNS menyediakan layanan kesehatan jiwa yang komprehensif. Melalui tim Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, RS UNS siap mendampingi proses pemulihan psikologis melalui konseling, psikoterapi, hingga penanganan medis yang diperlukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *