Care Commitment Conscience
 
Cacar Air pada Anak dan Dewasa: Kenali Gejala, Penularan, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

Cacar Air pada Anak dan Dewasa: Kenali Gejala, Penularan, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

RS UNS – Cacar air adalah salah satu penyakit infeksi yang cukup sering dialami, terutama oleh anak-anak. Ciri yang paling mudah dikenali adalah munculnya ruam kemerahan yang kemudian berubah menjadi lenting berisi cairan dan biasanya terasa gatal.

Pada sebagian besar anak yang sehat, cacar air memang bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, penyakit ini sangat mudah menular dan dalam kondisi tertentu bisa menyebabkan komplikasi. Risiko penyakit yang lebih berat terutama ada pada bayi, orang dewasa, ibu hamil, serta orang dengan daya tahan tubuh yang lemah.

Jadi, penting bagi orang tua dan masyarakat untuk tahu seperti apa gejalanya, bagaimana penularannya, cara merawatnya, tanda bahaya yang perlu diperhatikan, dan bagaimana cara mencegahnya.

 

Apa Itu Cacar Air?

Cacar air atau varisela (chickenpox) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh varicella-zoster virus (VZV), yang termasuk dalam kelompok virus herpes.

Saat pertama kali menginfeksi tubuh, virus varicella-zoster menyebabkan cacar air. Setelah sembuh, virusnya tidak benar-benar hilang, tetapi bisa tetap “tidur” di dalam sel saraf. Di kemudian hari, virus ini dapat aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster atau cacar ular.

Cacar air bisa menyerang siapa saja yang belum punya kekebalan terhadap virus ini. Penularannya sangat mudah, terutama pada orang yang belum pernah terkena cacar air atau belum mendapatkan vaksinasi.

 

 

Bagaimana Cacar Air Menular?

Cacar air termasuk penyakit yang sangat mudah menular. Virusnya bisa menyebar melalui:

  • Percikan dari saluran pernapasan ketika penderita batuk atau bersin.
  • Kontak langsung dengan penderita.
  • Kontak langsung dengan cairan dari lenting atau lepuhan cacar air.

Orang yang terkena cacar air sudah bisa menularkan virus sekitar 1–2 hari sebelum ruam muncul. Penularan masih bisa terjadi sampai semua lenting mengering dan berubah menjadi keropeng.

Itulah sebabnya cacar air gampang menyebar di rumah, sekolah, tempat penitipan anak, atau lingkungan lain yang banyak kontak dekat.

 

Berapa Lama Setelah Terpapar Virus Gejala Muncul?

Masa inkubasi cacar air biasanya sekitar 10–21 hari, dengan rata-rata 14–16 hari. Jadi, setelah terpapar virus, gejalanya tidak selalu langsung muncul pada hari itu juga.

 

Apa Saja Gejala Cacar Air?

Gejala cacar air bisa berbeda-beda pada tiap orang. Pada anak-anak, ruam kulit sering menjadi tanda pertama. Sementara pada remaja dan orang dewasa, demam, lemas, sakit kepala, atau nafsu makan menurun bisa muncul sebelum ruam. Beberapa gejala yang bisa muncul antara lain:

  • Demam.
  • Lemas atau merasa tidak enak badan.
  • Sakit kepala.
  • Nafsu makan menurun.
  • Ruam kemerahan pada kulit.
  • Lenting berisi cairan yang terasa gatal.

 

Bagaimana Bentuk Ruam Cacar Air?

Ruam cacar air biasanya muncul secara bertahap. Awalnya berupa bintik atau ruam kemerahan, lalu berubah menjadi benjolan kecil dan berkembang menjadi lenting berisi cairan. Setelah itu, lenting akan mengering dan menjadi keropeng.

Salah satu ciri khas cacar air adalah lesinya muncul bertahap. Jadi, pada saat yang sama bisa terlihat bintik merah, lenting berisi cairan, dan keropeng. Ruam biasanya muncul di wajah dan kulit kepala, lalu bisa menyebar ke badan dan anggota gerak. Lesi juga bisa muncul di selaput lendir, misalnya di dalam mulut.

 

Berapa Lama Cacar Air Sembuh?

Pada kebanyakan orang sehat, cacar air bisa sembuh dengan sendirinya. Ruam biasanya berkembang selama sekitar 5–7 hari, lalu lenting mengering dan menjadi keropeng. Lama pemulihan bisa berbeda-beda, tergantung kondisi tubuh dan ada tidaknya komplikasi.

Selama masih muncul lenting baru, penderita masih berpotensi menularkan penyakit.

 

Apakah Cacar Air Berbahaya?

Pada anak yang sehat, cacar air biasanya berlangsung ringan. Meski begitu, bukan berarti penyakit ini selalu aman. Komplikasi tetap bisa terjadi, misalnya:

  • Infeksi bakteri pada kulit.
  • Pneumonia atau infeksi paru.
  • Peradangan otak atau ensefalitis.
  • Dehidrasi.
  • Infeksi berat pada kelompok dengan daya tahan tubuh rendah.

Komplikasi tertentu perlu lebih diwaspadai pada bayi, remaja, orang dewasa, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh yang lemah.

 

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Cacar Air Berat?

Cacar air bisa dialami siapa saja, tetapi beberapa kelompok punya risiko mengalami komplikasi yang lebih tinggi, yaitu:

  • Bayi.
  • Remaja dan orang dewasa.
  • Ibu hamil.
  • Orang dengan daya tahan tubuh yang lemah.
  • Pasien yang menggunakan obat tertentu yang menekan sistem kekebalan tubuh.
  • Pasien dengan kondisi medis tertentu.

Kalau seseorang termasuk kelompok tersebut lalu mengalami gejala cacar air atau baru saja kontak erat dengan penderita, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

 

Bagaimana Cara Mengobati Cacar Air?

Pengobatan cacar air tergantung pada kondisi pasien. Pada kebanyakan anak sehat, perawatan lebih ditujukan untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi, karena tubuh biasanya mampu melawan infeksi ini secara alami. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Istirahat yang cukup

Tubuh butuh waktu dan energi untuk melawan infeksi. Jadi, pastikan penderita cukup istirahat.

  1. Cukupi kebutuhan cairan

Pastikan penderita cukup minum agar tidak mengalami dehidrasi. Kalau ada luka di dalam mulut sehingga anak sulit minum, berikan sedikit-sedikit tetapi lebih sering.

  1. Tetap menjaga kebersihan tubuh

Penderita cacar air tetap perlu menjaga kebersihan tubuh. Mandi boleh dilakukan dengan lembut, lalu keringkan kulit tanpa menggosok terlalu keras.

  1. Hindari menggaruk

Rasa gatal memang bisa bikin ingin menggaruk. Tapi, menggaruk dapat membuat luka dan meningkatkan risiko infeksi bakteri. Karena itu, kuku sebaiknya dipotong pendek, terutama pada anak.

  1. Gunakan pakaian yang nyaman

Pilih pakaian yang longgar, bersih, dan bahannya lembut supaya kulit tidak makin teriritasi.

  1. Mengurangi rasa gatal

Kompres dingin atau obat tertentu bisa digunakan untuk membantu mengurangi rasa gatal sesuai anjuran dokter. Losion calamine juga bisa membantu meredakan gatal pada sebagian penderita.

 

Apakah Cacar Air Membutuhkan Antibiotik?

Cacar air tidak selalu perlu antibiotik. Karena penyebabnya adalah virus, antibiotik tidak digunakan untuk membunuh virus cacar air. Antibiotik baru diberikan kalau dokter menemukan infeksi bakteri sekunder, misalnya pada kulit yang terinfeksi karena luka atau garukan. Jadi, jangan memberikan antibiotik tanpa pemeriksaan dan anjuran dokter.

 

Apakah Cacar Air Membutuhkan Obat Antivirus?

Dalam kondisi tertentu, dokter bisa memberikan obat antivirus. Obat ini terutama dipertimbangkan untuk pasien yang berisiko mengalami penyakit berat. Penggunaannya juga perlu disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, dan kapan gejala mulai muncul. Karena itu, antivirus sebaiknya digunakan berdasarkan pemeriksaan dan resep dokter.

 

Bolehkah Penderita Cacar Air Sekolah atau Bekerja?

Sebaiknya penderita tidak masuk sekolah atau bekerja selama masih dalam masa menular. Aktivitas bisa kembali dilakukan setelah semua lenting mengering dan menjadi keropeng. Ini penting untuk mencegah penularan, terutama kepada bayi, ibu hamil, orang yang belum punya kekebalan terhadap varisela, dan orang dengan daya tahan tubuh yang lemah.

 

Apakah Cacar Air Boleh Mandi?

Penderita cacar air tetap dianjurkan mandi untuk menjaga kebersihan kulit. Mandilah dengan lembut dan jangan menggosok kulit atau memecahkan lenting. Setelah mandi, keringkan tubuh dengan menepuk-nepuk handuk secara perlahan. Menjaga kulit tetap bersih justru penting untuk membantu mencegah infeksi bakteri.

 

Bagaimana Cara Mencegah Cacar Air?

  1. Vaksinasi Varisela

Vaksinasi adalah salah satu cara penting untuk mencegah cacar air. Vaksin varisela membantu mencegah infeksi dan menurunkan risiko penyakit berat. Kalaupun orang yang sudah divaksin tetap terkena cacar air, biasanya penyakitnya lebih ringan. Jadwal dan ketentuan vaksinasi bisa berbeda sesuai usia dan kondisi kesehatan, jadi sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk mendapatkan jadwal yang sesuai.

  1. Hindari Kontak Dekat dengan Penderita

Kalau ada anggota keluarga yang sedang terkena cacar air, batasi kontak dekat dengan anggota keluarga lain, terutama yang belum punya kekebalan.

  1. Terapkan Etika Batuk dan Bersin

Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, dan biasakan mencuci tangan dengan sabun serta air mengalir.

  1. Jangan Berbagi Barang Pribadi

Hindari berbagi barang pribadi yang mungkin terkena cairan dari lenting penderita.

 

Apakah Orang yang Sudah Pernah Cacar Air Bisa Terkena Lagi?

Sebagian besar orang yang pernah terkena cacar air akan punya kekebalan jangka panjang, sehingga terkena cacar air lagi relatif jarang. Namun, virus varicella-zoster tetap bisa “tidur” di dalam tubuh. Di kemudian hari, virus ini dapat aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster atau cacar ular. Jadi, cacar air dan herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama, tetapi keduanya merupakan kondisi yang berbeda.

 

Kapan Penderita Cacar Air Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan dengan dokter jika:

  • Penderita masih bayi.
  • Penderita sedang hamil.
  • Penderita memiliki daya tahan tubuh yang lemah.
  • Demam tinggi atau demam menetap.
  • Mengalami sesak atau kesulitan bernapas.
  • Mengalami muntah berulang atau sulit minum.
  • Tampak sangat lemas, mengantuk, bingung, atau mengalami penurunan kesadaran.
  • Mengalami gangguan berjalan atau koordinasi.
  • Mengalami leher kaku.
  • Ruam menjadi sangat merah, panas, bengkak, atau nyeri.
  • Lesi mengeluarkan nanah.
  • Kondisi penderita semakin memburuk.

Tanda-tanda tersebut perlu diperhatikan karena bisa menunjukkan komplikasi atau infeksi sekunder yang membutuhkan penanganan medis.

 

Jangan Anggap Sepele Cacar Air

Cacar air memang sering bisa sembuh dengan sendirinya, terutama pada anak yang sehat. Namun, penyakit ini sangat mudah menular dan tetap bisa menyebabkan komplikasi pada kelompok tertentu.

Mengenali gejala sejak awal, mencegah penularan, menjaga kebersihan kulit, tidak menggaruk lenting, dan mendapatkan vaksinasi sesuai rekomendasi merupakan bagian penting untuk mencegah dan menangani cacar air.

Kalau Anda atau anggota keluarga mengalami gejala yang mirip cacar air, apalagi disertai tanda bahaya atau memiliki faktor risiko tertentu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter agar bisa diperiksa dan ditangani dengan tepat.

Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS) siap membantu memberikan pelayanan kesehatan untuk Anda dan keluarga.

 

Ditinjau oleh: dr. Rama Sanityasa Hasbi

 

Referensi :

  1. World Health Organization. Chickenpox. Updated 4 February 2025.
  2. Centers for Disease Control and Prevention. Varicella (Chickenpox): Fact Sheet.
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Varicella (Chickenpox) Vaccine: What You Need to Know. 2025.
  4. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Cacar Air: Gejala, Pencegahan, dan Pengobatan.
  5. Kementerian Kesehatan RI, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Apakah Cacar Air Menular?
  6. Kementerian Kesehatan RI, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Mengenal Cacar Air.
  7. Kementerian Kesehatan RI, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Manfaat Imunisasi Varisela untuk Kesehatan Anak. 28 May 2025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *