
RS UNS – Kejang pada Anak: Kenali Penyebab, Penanganan, dan Kapan Harus ke Dokter
Jangan Panik Saat Anak Mengalami Kejang
Melihat anak mengalami kejang merupakan salah satu kondisi yang paling menegangkan bagi orang tua. Tubuh anak dapat tampak kaku, tangan dan kaki bergerak tidak terkendali, mata mendelik, hingga kehilangan kesadaran. Kondisi tersebut sering kali menimbulkan kepanikan sehingga banyak orang tua melakukan tindakan yang justru kurang tepat, seperti memasukkan sendok atau benda lain ke dalam mulut anak. Padahal, pertolongan pertama yang benar sangat penting untuk mencegah cedera dan membantu tenaga kesehatan menentukan penyebab kejang. Sebagian besar kejang pada anak tidak menyebabkan kerusakan otak permanen, tetapi tetap memerlukan evaluasi medis agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.
Apa Itu Kejang Pada Anak?
Kejang adalah kondisi ketika terjadi aktivitas listrik yang tidak normal di otak sehingga menimbulkan perubahan pada gerakan tubuh, kesadaran, perilaku, maupun sensasi. Kejang bukan merupakan suatu penyakit, melainkan gejala dari berbagai kondisi medis. Lama kejang dapat berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit dan dapat terjadi hanya sekali maupun berulang pada setiap anak yang berbeda. Ada anak yang mengalami kejang seluruh tubuh, ada pula yang hanya tampak menatap kosong atau mengalami gerakan berulang pada salah satu bagian tubuh.
Apa Penyebab Kejang Pada Anak?
Penyebab kejang pada anak sangat beragam. Penyebab yang paling sering adalah kejang demam, yaitu kejang yang terjadi akibat kenaikan suhu tubuh di atas 38°C pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun tanpa adanya infeksi pada sistem saraf pusat. Selain itu, kejang juga dapat disebabkan oleh epilepsi, infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis, cedera kepala, gangguan kadar gula darah (hipoglikemia), gangguan elektrolit, keracunan obat, maupun kelainan bawaan pada sistem saraf. Riwayat keluarga dengan kejang atau epilepsi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kejang pada sebagian anak. Oleh karena itu, setiap kejadian kejang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut agar penyebabnya dapat diketahui secara pasti dan terapi yang diberikan sesuai dengan kondisi anak.
Bagaimana Cara Menangani Kejang?
Apabila anak mengalami kejang, orang tua sebaiknya tetap tenang dan segera memastikan anak berada di tempat yang aman. Baringkan anak pada permukaan yang datar, kemudian miringkan tubuhnya ke salah satu sisi agar jalan napas tetap terbuka dan mengurangi risiko tersedak. Longgarkan pakaian yang ketat, terutama di sekitar leher, serta jauhkan benda-benda yang dapat menyebabkan cedera. Jangan memasukkan sendok, jari, makanan, minuman, atau benda apa pun ke dalam mulut anak karena tindakan tersebut dapat menyebabkan luka atau sumbatan jalan napas. Hindari pula menahan gerakan kejang secara paksa. Catat waktu mulai kejang dan berapa lama kejang berlangsung karena informasi tersebut akan membantu dokter dalam menentukan diagnosis dan penanganan selanjutnya.
Bagaimana Cara Mencegah Kejang?
Pencegahan kejang bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Orang tua dianjurkan menjaga kesehatan anak dengan memberikan imunisasi sesuai jadwal, memenuhi kebutuhan gizi dan cairan, serta segera memeriksakan anak apabila mengalami demam tinggi atau tanda-tanda infeksi. Pada anak yang telah didiagnosis epilepsi, obat antikejang harus diminum secara teratur sesuai anjuran dokter dan tidak boleh dihentikan tanpa konsultasi. Selain itu, memastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup serta menghindari faktor pencetus kejang sesuai kondisi masing-masing juga dapat membantu menurunkan risiko kekambuhan.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Segera bawa anak ke dokter atau instalasi gawat darurat apabila kejang berlangsung >5 menit, terjadi berulang dalam waktu 24 jam, disertai kesulitan bernapas, wajah tampak kebiruan, tidak sadar setelah kejang berhenti, atau terjadi setelah cedera kepala. Pemeriksaan juga diperlukan apabila kejang terjadi untuk pertama kali, terjadi pada bayi berusia kurang dari enam bulan, atau muncul tanpa disertai demam.
Apabila anak mengalami kejang <5 menit, hanya terjadi satu kali dalm 24 jam, terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun, dan anak kembali sadar setelah kejang, orang tua tetap dianjurkan membawa anak ke dokter pada hari yang sama. Pemeriksaan bertujuan untuk mengetahui penyebab kejang dan memastikan tidak adanya kondisi lain yang memerlukan penanganan khusus. Penanganan medis yang cepat dan tepat dapat mencegah komplikasi, serta meningkatkan peluang kesembuhan anak.
Ditinjau oleh: dr. Aisya Fikritama Aditya, Sp.A
Referensi :
– Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Kejang demam pada anak: Gejala, tipe dan cara tepat mengatasinya. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3630/kejang-demam-pada-anak-gejala-tipe-dan-cara-tepat-mengatasinya
– Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Kejang pada anak. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/1476/kejang-pada-anak
– Xixis, K. L., Samanta, D., Smith, T., & Keenaghan, M. (2024). Febrile Seizure. StatPearls Publishing. NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448123/
– Amalia, D., & Syifa, N. (2024). Kejang Demam pada Anak. GALENICAL: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh, 3(2). https://ojs.unimal.ac.id/galenical/article/view/21384
– World Health Organization. (2023). Epilepsy. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/epilepsy
