Care Commitment Conscience
 
Kupas Tuntas Mitos dan Fakta Gagal Jantung: Tim Dokter RS UNS Jelaskan Gejala, Pengobatan, Terapi Alat Canggih, hingga Gaya Hidup

Kupas Tuntas Mitos dan Fakta Gagal Jantung: Tim Dokter RS UNS Jelaskan Gejala, Pengobatan, Terapi Alat Canggih, hingga Gaya Hidup

RS UNS – Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS) menghadirkan edukasi kesehatan mendalam untuk meluruskan berbagai kesalahpahaman awam yang beredar di masyarakat mengenai penyakit gagal jantung. Diskusi edukatif ini menghadirkan tim pakar RS UNS:

  • Irnizarifka, Sp.JP, Subsp. Ar(K), FIHA, FAPSC, FAsCC, FHFA, FACC, AIFO-K (Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia)
  • dr. Habibie Arifianto, Sp.JP, Subsp. PKV(K), M.Kes, FIHA (Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Pencitraan Kardiovaskular)
  • Fitri Kusumastuti, Sp.JP (Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah)
  • Dyah Isna Romadani, S.Kep., Ners. (Perawat Klinik Gagal Jantung RS UNS)

Melalui diskusi ini, RS UNS membedah mitos dan fakta seputar perbedaan gagal jantung dan serangan jantung, efektivitas terapi medis modern berbasis panduan, penanganan intervensi alat canggih, hingga pentingnya pengelolaan gaya hidup bagi pasien.

 

Beda Gagal Jantung, Henti Jantung, dan Serangan Jantung

Tim pakar RS UNS menegaskan bahwa ketiga kondisi ini sangat berbeda secara medis:

  • Gagal Jantung (Heart Failure): Kondisi progresif ketika fungsi pemompaan jantung menurun atau otot jantung mengalami kekakuan. Penyakit ini berkembang secara perlahan akibat riwayat hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung koroner yang tidak terkontrol.
  • Henti Jantung (Cardiac Arrest): Kondisi saat organ jantung berhenti berdenyut secara mendadak akibat gangguan kelistrikan.
  • Serangan Jantung (Acute Coronary Syndrome / ACS): Sumbatan mendadak pada pembuluh darah koroner (sering dikira angin duduk). Serangan jantung berulang yang merusak jaringan otot dapat menjadi pemicu utama timbulnya gagal jantung.

 

Gagal Jantung Tidak Mengenal Usia

Mitos bahwa gagal jantung hanya dialami oleh lansia ditepis oleh para pakar RS UNS. Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok usia:

  • Bayi Baru Lahir: Akibat kelainan atau penyakit jantung bawaan (kebocoran sekat jantung).
  • Usia Muda dan Remaja: Dipicu faktor genetik, gangguan kelistrikan jantung (aritmia), infeksi otot jantung (miokarditis), kelainan tiroid, hingga broken heart syndrome (depresi/stres berat).
  • Ibu Hamil & Pascamelahirkan: Dipicu oleh kondisi peripartum cardiomyopathy.

 

Penegakan Diagnosis Canggih & Akurat

Pemeriksaan gagal jantung tidak cukup hanya mengandalkan rekam jantung (EKG) atau USG jantung (Ekokardiografi) standar. Untuk mendiagnosis tipe gagal jantung, baik fungsi pompa menurun (HFrEF) maupun fungsi pompa normal (HFpEF). RS UNS menyediakan pemeriksaan pencitraan dan diagnostik lanjutan:

  • Holter EKG (CCTV Kelistrikan Jantung): Pemantauan 24–48 jam untuk mendeteksi gangguan irama jantung (aritmia) yang tersembunyi.
  • MRI Jantung: Evaluasi mendalam jaringan sel otot jantung serta mendeteksi penumpukan protein asing (amiloidosis atau sarkoidosis).
  • CT Scan Jantung & Kateterisasi Jantung Kanan (RHC): Menilai tingkat penyempitan pembuluh darah koroner dan tekanan ruang-ruang jantung.
  • Biopsi Jantung: Pengambilan sampel jaringan dinding jantung untuk mendeteksi infeksi atau kerusakan struktural.
  • Pemeriksaan NT-proBNP: Marker laboratorium khusus untuk mengonfirmasi gagal jantung.

 

Mitos Pengobatan, Kesehatan Ginjal, dan Jamu Herbal

Banyak pasien menghentikan pengobatan secara sepihak karena takut merusak ginjal atau takut ketergantungan. Tim RS UNS menegaskan:

  • Obat Jantung Tidak Merusak Ginjal: Empat pilar obat gagal jantung terstandar (GDMT) justru berfungsi melindungi organ, mencegah perburukan fungsi jantung, dan menurunkan risiko kematian.
  • Bukan Ketergantungan: Obat diminum jangka panjang untuk menstabilkan kondisi jantung, bukan karena kecanduan psikologis.
  • Kenaikan Kreatinin Sementara: Peningkatan kecil kadar kreatinin di awal terapi adalah respons wajar yang perlu dititrasi (disesuaikan) oleh dokter spesialis jantung, bukan alasan untuk menghentikan obat sepihak.
  • Bahaya Jamu/Herbal Racikan Bebas: Herbal alami (seperti kunyit atau beras kencur) aman sebagai pendamping (adjuvant), tetapi jamu/herbal bubuk berisiko dicampur obat keras (steroid). Steroid menyebabkan penumpukan cairan, memperburuk sesak napas, dan merusak ginjal.

 

Terapi Intervensi Alat Canggih & Operasi Paripurna

Bagi pasien yang masih bergejala meski dosis obat sudah maksimal, RS UNS menyediakan berbagai pilihan terapi intervensi lanjutan:

  • CRT (Cardiac Resynchronization Therapy): Alat penyesuai irama jantung yang bertindak sebagai “orkestrator” untuk menyinkronkan kembali denyut jantung.
  • ICD (Implantable Cardioverter-Defibrillator): Alat yang berfungsi sebagai “satpam” untuk mencegah kematian jantung mendadak akibat aritmia berbahaya.
  • Ablasi Jantung: Mengatasi dan memutus sumber korsleting kelistrikan jantung.
  • Operasi Katup / MitraClip & Pemasangan Ring (PCI/CABG): Memperbaiki kelainan katup atau membuka penyempitan pembuluh darah koroner.
  • Rehabilitasi Jantung: Program pemulihan bertahap untuk mengembalikan kualitas hidup dan produktivitas pasien.

 

Pengendalian Faktor Risiko & Gaya Hidup

Penanganan pasien di Klinik Gagal Jantung RS UNS dirancang secara khusus dan sangat personal (tailor-made / customized). Karena setiap pasien memiliki latar belakang penyakit, tingkat kerusakan fungsi jantung, dan faktor risiko yang berbeda-beda, sehingga diet, edukasi, hingga dosis obat tidak dapat disamaratakan:

  • Restriksi Natrium & Garam: Baik garam dapur maupun garam Himalaya tetap mengandung natrium yang menahan cairan tubuh. Asupan garam, kecap, dan makanan instan wajib dibatasi.
  • Restriksi Cairan: Pasien dengan fungsi pompa di bawah 50% wajib membatasi asupan cairan total (rata-rata 1–1,5 liter per hari, termasuk kuah makanan dan buah berair).
  • Target Pengendalian Risiko: Gula darah puasa wajib terkontrol < 100–110 mg/dL (HbA1c < 6%), kolesterol LDL < 55 mg/dL (pada kasus koroner), dan tekanan darah terpelihara.
  • Stop Total Merokok: Menghindari rokok aktif maupun pasif. Dibutuhkan waktu hingga 15 tahun bebas rokok untuk menetralkan total risiko kardiovaskular.
  • Olahraga Terukur: Kombinasi olahraga aerobik dan resistance training (latihan beban) secara konsisten 5–7 kali seminggu selama minimal 30 menit saat kondisi pasien stabil.

Deteksi Dini Gejala: Segera periksakan diri jika mengalami “ngos-ngosan” atau mudah lelah saat melakukan aktivitas harian ringan (seperti berjalan ke kamar mandi atau naik tangga satu lantai).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *