RS UNS Gelar Live Dialog Sehat Peringati Hari Anak Nasional 2026: Kenali Kegawatdaruratan pada Anak

RS UNS Gelar Live Dialog Sehat Peringati Hari Anak Nasional 2026: Kenali Kegawatdaruratan pada Anak

RS UNS – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026, Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS) menggelar Live Dialog Sehat bertajuk “Mengenal Kegawatdaruratan pada Anak: Kapan Harus ke Dokter Bedah Anak?”. Kegiatan yang dipandu oleh dr. Muhammad Zaki Wisnumurti ini menghadirkan dr. Ninditya Nugroho, Sp.BA, Dokter Spesialis Bedah Anak RS UNS, sebagai narasumber untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai tanda-tanda kegawatdaruratan pada anak yang memerlukan penanganan segera.

Dalam paparannya, dr. Ninditya menjelaskan bahwa kegawatdaruratan pada anak merupakan kondisi yang dapat mengancam nyawa, menyebabkan kerusakan organ, dan membutuhkan penanganan medis tanpa penundaan.

“Kegawatdaruratan pada anak adalah kondisi yang bisa mengancam nyawa, menimbulkan kerusakan organ, dan membutuhkan penanganan segera. Jadi memang sebaiknya tidak ditunda,” jelas dr. Ninditya.

Ia menjelaskan, beberapa tanda bahaya yang perlu diwaspadai orang tua antara lain nyeri perut hebat yang menetap atau semakin memberat, muntah berwarna hijau, perut kembung hingga tidak dapat buang air besar maupun buang angin, demam tinggi disertai kejang atau penurunan kesadaran, benjolan di selangkangan yang tidak dapat masuk kembali, serta berbagai bentuk trauma. Menurutnya, apabila anak mengalami kondisi tersebut, orang tua sebaiknya segera membawa anak ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Pada kesempatan tersebut, dr. Ninditya juga menekankan pentingnya deteksi dini terhadap kelainan bawaan sejak bayi baru lahir. Orang tua diimbau untuk lebih peka memperhatikan kondisi fisik bayi, seperti memastikan seluruh lubang tubuh termasuk lubang anus terbentuk dengan baik, serta memantau keluarnya mekonium (feses pertama bayi yang berwarna hijau gelap atau hitam pekat) dalam 24 jam pertama setelah lahir. Apabila ditemukan benjolan atau kelainan fisik lainnya, orang tua disarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa berbagai kasus bedah anak saat ini sudah dapat ditangani dengan teknik bedah minimal invasif (laparoskopi). Teknik modern ini memberikan keuntungan signifikan bagi pasien anak, yaitu bekas luka operasi yang jauh lebih kecil dan proses pemulihan yang lebih cepat.

Selain membahas tanda-tanda kegawatdaruratan, dr. Ninditya Nugroho menyampaikan bahwa dokter umum dan dokter spesialis anak,  merupakan fasilitas layanan pertama dalam menangani keluhan awal maupun kondisi darurat pada anak. Apabila memerlukan tindakan operasi, penanganan akan dilanjutkan melalui kolaborasi multidisiplin antara dokter bedah anak dan dokter spesialis lainnya untuk memberikan pelayanan yang komprehensif. Dengan alur rujukan ini, orang tua tidak perlu bingung atau khawatir dalam menentukan tujuan pemeriksaan awal.

Menutup dialog, dr. Ninditya mengingatkan agar orang tua tetap tenang saat menghadapi kondisi darurat dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperburuk keadaan, seperti memijat benjolan pada selangkangan yang diduga merupakan hernia, dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat apabila muncul tanda-tanda bahaya.

“Orang tua tidak perlu panik dan tidak perlu menunggu anak tampak sangat kesakitan. Semakin cepat anak mendapatkan penanganan yang tepat, semakin besar peluang mencegah komplikasi dan memperoleh hasil pengobatan yang lebih baik,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, RS UNS berharap masyarakat semakin memahami tanda-tanda kegawatdaruratan pada anak sehingga dapat mengambil keputusan yang cepat dan tepat dalam mencari pertolongan medis demi keselamatan dan kesehatan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *