Waspada Hantavirus: RS UNS Tegaskan Bukan Virus Baru dan Ajak Masyarakat Kenali Kunci Pemutus Rantai Penularannya

Waspada Hantavirus: RS UNS Tegaskan Bukan Virus Baru dan Ajak Masyarakat Kenali Kunci Pemutus Rantai Penularannya

RS UNS – Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS) menggelar acara Live Dialog Sehat bertajuk “Waspada Hantavirus: Kenali Kunci Memutus Rantai Penularannya”. Edukasi ini menghadirkan dr. Aulia Zafira selaku host dan narasumber ahli Prof. Tonang Dwi Ardyanto, dr., Sp.PK, Subsp. IK(K), Ph.D, CHAE, CMRE (Dokter Spesialis Patologi Klinik Subspesialis Imunologi Klinik RS UNS), guna memberikan pemahaman yang tepat serta meluruskan berbagai disinformasi yang beredar di masyarakat terkait Hantavirus.

Bukan Virus Baru dan Bukan Virus Buatan

Menanggapi keresahan masyarakat di media sosial, Prof. Tonang menegaskan bahwa Hantavirus bukan merupakan virus baru, apalagi virus buatan manusia. Penyakit ini telah diidentifikasi secara medis sejak tahun 1950-an di Korea Selatan dengan nama Korean Hemorrhagic Fever. Virusnya sendiri berhasil diisolasi pada tahun 1978 di dekat Sungai Hantaan, dan pada tahun 1981 ditemukan bahwa tikus (rodent) bertindak sebagai reservoir alami virus tersebut.

Mekanisme Penularan dan Gejala

Hantavirus hidup dan berkembang biak di dalam tubuh tikus tanpa membuat hewan tersebut sakit. Virus ini dikeluarkan melalui urin, feses, dan air liur (saliva) tikus.

Catatan Penting: Penularan ke manusia terjadi bukan karena mengonsumsi urin atau kotoran tikus secara langsung, melainkan ketika cairan/kotoran tikus tersebut menempel di lingkungan, mengering, lalu terurai menjadi partikel sangat kecil (aerosol) di udara yang kemudian tidak sengaja terhirup oleh manusia, atau mencemari makanan/minuman yang dikonsumsi.

Secara klinis, Hantavirus menyebabkan terjadinya kebocoran pada pembuluh darah. Pada tahap awal, gejalanya tidak spesifik dan menyerupai penyakit lain seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), Leptospirosis, maupun Hepatitis A, dengan keluhan berupa demam, meriang, nyeri otot, mual, muntah, hingga sesak napas dan penurunan fungsi ginjal pada kondisi lanjut.

“Bagi masyarakat, sekali lagi enggak usah memusingkan soal gejalanya apa secara spesifik, karena gejalanya mirip-mirip semua dengan penyakit lain. Begitu Anda merasa sakit, segera periksa. Itu yang paling penting agar bisa segera ditangani secara medis,” ujar Prof. Tonang.

Berdasarkan data surveilans di Indonesia dari tahun 2024 hingga April 2026, terdapat 256 kasus dengan gejala mengarah ke Hantavirus, di mana hanya 23 kasus yang dinyatakan positif (sekitar 11%). Dari jumlah tersebut, tercatat 3 kasus kematian yang seluruhnya terjadi pada pasien lanjut usia atau yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

Perbedaan Besar dengan COVID-19: Minim Risiko Pandemi

Masyarakat diimbau untuk tidak panik mengenai isu adanya lockdown atau pandemi baru. Prof. Tonang menjelaskan bahwa mayoritas galur (strain) Hantavirus tidak menular dari manusia ke manusia, melainkan hanya dari hewan ke manusia.

Meskipun di benua Amerika terdapat strain Andes yang dicurigai memiliki potensi penularan antarmanusia dengan tingkat fatalitas tinggi (40%–60%), hasil pelacakan genetik (sequencing) menunjukkan bahwa strain Andes belum pernah ditemukan di Indonesia. Jenis Hantavirus yang ada di Asia dan Indonesia umumnya memicu gejala Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan tingkat fatalitas yang jauh lebih rendah (1%–15%).

“Kita tidak perlu terjebak dengan suara-suara akan pandemi lagi atau akan lockdown lagi. Gak seperti itu modelnya. Hantavirus ini berbeda situasinya dengan COVID-19. Sifat penularannya bukan dari manusia ke manusia, jadi penanganan utamanya adalah mengendalikan dan menjauhkan diri dari sumber hewannya,” tegas Prof. Tonang.

Kunci Pencegahan dan Pengobatan

Hingga saat ini, belum ada obat antivirus khusus yang spesifik untuk Hantavirus, sehingga penanganan medis berfokus pada terapi suportif sesuai gejala yang timbul (simptomatik). Vaksin Hantavirus sudah dikembangkan di Korea dan China karena tingginya angka kasus di sana, namun untuk di Indonesia saat ini belum menjadi program vaksinasi nasional karena jumlah kasus yang relatif kecil dan sifat penularannya yang terbatas.

Langkah utama dan paling efektif untuk memutus rantai penularan Hantavirus adalah dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan terkecil:

  1. Mengendalikan populasi tikus: Bersihkan sudut-sudut rumah, gudang yang tidak terawat, dan saluran air secara berkala agar tidak menjadi sarang tikus.
  2. Melindungi makanan dan minuman: Tutup rapat wadah makanan dan sumber air bersih agar tidak tercemar oleh kotoran atau air liur tikus.
  3. Segera berobat: Jika mengalami gejala demam dan keluhan fisik yang tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis pasti (melalui uji antibodi atau PCR) secara dini.

“Urusan membedakan gejala klinis biarlah menjadi ranah tenaga medis di rumah sakit melalui pemeriksaan laboratorium. Bagi masyarakat, momentum ini harus dijadikan pengingat pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Tetap rasional, jangan mudah panik, dan selalu jaga kesehatan,” pungkas Prof. Tonang di akhir dialog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *